Kisah di balik Ganasnya sang Raja Hutan
Harimau.
Kucing liar yang sering disalahpahami.
Tapi... meskipun mereka liar dan buas,
mereka tetaplah kucing, bukan?
Meow... but roar edition 🐱
Kucing jalanan mengendap-endap di gang untuk memburu tikus.
Harimau mengendap-endap di hutan untuk memburu rusa, kerbau liar, atau mangsa lainnya.
Funfact: Harimau berkamuflase menggunakan bulu orennya.
Wait, berkamuflase di hijaunya hutan dengan bulu orennya yang mencolok? Sounds impossible, bukan? Tapi begitulah kenyataannya.
Jadi mari kita bahas.
Harimau adalah hewan yang soliter, yaitu hidup menyendiri dan berburu mangsa sendirian. Mereka bisa menguasai satu wilayah hutan seluas Jakarta-Depok supaya tidak berebutan mangsa dengan harimau lainnya. Karena tahukah kamu? Sengeri dan sekuat apapun harimau, perburuan mereka jauh lebih sering gagal dari yang kamu kira. Sekitar satu banding sepuluh kali perburuan mereka yang berhasil. Jadi jika ada harimau asing yang masuk wilayah harimau lain? Itu bisa dianggap sebagai perang. Kecuali jika harimau betina yang masuk ya, karena bisa jadi mereka mau kawin.
Kalau biasanya serigala menandai wilayah dengan cakar mereka, maka harimau menandai wilayahnya dengan urine. Serius! Pake kencing mereka sendiri! Makanya kalau kamu lihat kucing di rumah kamu suka gali tanah dulu sebelum kencing, jangan heran ya. Itu udah jadi insting bawaan warisan nenek moyang mereka dari alam liar. Karena kalau harimau mencium bau kencing lain yang bukan miliknya, mereka bisa menganggapnya sebagai perang.
Perang lagi...
Yah, gimana lagi. Namanya juga apex predator, hehe. Mereka punya aturan sendiri.
Harimau itu karnivora, alias pemakan daging.
🗣️ Jadi perutnya pasti kenyang banget. Karena protein kan yang paling lama dicerna lambung.
Betul sekali! Seratus buat kamu 🫵
Secara logika, harimau memang kelihatannya yang paling kenyang dari yang lain. Eitss, tapi tidak segampang itu ya. Alam tidak sedermawan itu untuk harimau, karena kalau para harimau terlalu gampang mendapatkan mangsanya, populasi mereka bisa meledak dong. Dan keseimbangan alam bisa rusak. Makanya didesainlah harimau yang ganas tapi juga sering gagal dalam berburu.
Alam basically:
- Ada suara ranting patah dikit atau kerikil jatuh pelan --> Mangsa langsung kabur.
- Udah sembunyi dan kamuflase di semak-semak dengan sempurna, tapi hewan lain dengan kepekaan warna yang lebih tinggi seperti primata bisa memberi mereka warning --> Mangsa kabur lagi.
Karena funfact: Mangsa-mangsa harimau pada umumnya (seperti rusa) itu tidak bisa melihat warna oren. Jadi warna oren harimau bisa menyatu dengan baik dengan semak-semak hijau di sekitarnya.
Sabar yah, harimau...
Tapi selapar-laparnya mereka, harimau jarang banget kok mau berurusan sama manusia. Mereka tahu kalau manusia itu nggak boleh diganggu, jadi biasanya mereka akan langsung menghindar, terutama pemukiman warga.
Tapi kalau tiba-tiba ada harimau yang masuk? Bisa jadi mereka udah desperate banget, putus asa banget buat nyari makan. Manusia semakin lama semakin serakah, semakin banyak hutan tempat tinggal mereka yang dihabisi. Kalau hutan wilayah kekuasaan seekor harimau dulu bisa seluas Jakarta-Depok, sekarang hutan seluas Jakarta justru ditinggali beberapa ekor harimau. Persaingan semakin ketat, persediaan makanan semakin menipis, hingga pada akhirnya, jalan terakhir mereka hanyalah mencari-cari kucing liar atau hewan-hewan kecil lain yang tinggal di pemukiman warga.
Komentar
Posting Komentar