Tanuki, si Lucu Berbulu Halus


Menurut kamu hewan apa ini? 
Rakun? Anjing? 
Bukan! Tapi anjing rakun! 

Meskipun identitasnya membingungkan, tanuki, atau dikenal juga sebagai Racoon Dog, masuk ke dalam klasifikasi Canidae, alias masih berkerabat dekat dengan anjing. Mereka memang punya pola wajah yang menyerupai rakun, tapi pola di ekornya bukan belang cincin seperti rakun. 

Sama seperti rakun pada umumnya, tanuki adalah seekor omnivora. Bedanya, kalau rakun punya tangan alih-alih kaki depan, tanuki murni berkaki empat layaknya anjing biasa. 

Funfact: Tanuki adalah satu-satunya anjing yang berhibernasi. 

Dalam folklore Jepang, tanuki digambarkan sebagai roh atau yokai yang suka menjahili manusia. Mereka tidak digambarkan sebagai makhluk jahat, tidak pula mencelakakan manusia. Daun di atas kepalanya diyakini sebagai sumber kekuatannya, yang juga membantunya untuk berubah wujud. Namun dalam kepercayaan Jepang modern, tanuki dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, sehingga terkadang para warga atau pemilik toko mengukir patung tanuki di depan toko mereka sebagai simbol rezeki. 

Tanuki adalah salah satu saksi hidup kekejaman dan ketidaktanggungjawaban manusia. 
Kenapa? Kamu yakin mau lanjut baca? 
Ini jahat banget loh, sumpah. Tapi aku akan berusaha untuk menulisnya seringan mungkin. 

Mereka bilang bulunya sangat lebat, halus, dan nyaman. Mereka membudidayakan tanuki untuk diambil bulunya, sama seperti ketika manusia memburu badak untuk diambil culanya. Jadi mereka membangun peternakan tanuki yang terisolasi dari habitatnya. Orang-orang luar negeri yang tertarik kemudian melepasliarkan mereka di hutan-hutan Eropa dengan iklim yang lebih dingin, dengan tujuan supaya mereka bisa menghasilkan bulu yang lebih lebat. 

Tentu saja, tanuki adalah hewan endemik, dan mampu cepat beradaptasi dengan iklim di hutan barunya. Mereka dikatakan sangat mengancam keberlangsungan ekosistem lokal sehingga dianggap sebagai spesies invasif. 

I mean... Mereka sendiri loh yang ngundang mereka ke sana... 🙄
Ya iyalah invasif, orang ikan sekecil Red Devil aja bikin ekosistem danau Toba acak-acakan. 
Dan kamu tahu lah gimana endingnya. Yap, mereka diburu dan dibunuh untuk mengurangi populasinya supaya nggak mengganggu ekosistem lokal. 
Kinda sounds like kucing di Australia bukan? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kupu-kupu, si Cantik nan Elegan yang Rapuh

Kisah di balik Ganasnya sang Raja Hutan